KULIAH BUKAN UNTUK MENCARI IJAZAH..TAPI, UNTUK BELAJAR

"Seribu Orang Tua Hanya Bisa Bermimpi. Tetapi seorang Pemuda Bisa Mengubah Dunia"

"Saat Kita Punya Sedikit saja rasa peduli akan SEKITAR. Disitu Kita telah Memperbaiki Kualitas Pendidikan Negara Kita"

(bernata manalu)

Kamis, 23 April 2015

RASIONALISME DN TOKOH-TOKOHNYA-KREASI ANAK HIMAPA



 BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang Masalah
Pada akhir abad keenam belas, filsafat telah berhenti. Descarteslah yang memulainya kembali. Filsafat dimulai untuk yang pertama kalinya pada abad keenam Sebelum Masehi di Yunani Kuno. Dua abad kemudian, tercapai zaman keemasan filsafat dengan munculnya Sokrates, disusul dengan Plato dan Aristoteles. Setelah itu, hampir selama 2000 tahun, tidak terjadi apa pun. Tidak ada sesuatu yang orisinal. Tentu saja memang ada sejumlah filsuf yang dilahirkan selama periode 2000 tahun tersebut. Filsuf dari Aleksandria pada abad ketiga, Plotinus, mendandani filsafat Plato hingga terbentuknya Neoplatonisme. Santo Agustinus dari Hippo memperbaiki lagi filsafat Neoplatonisme untuk bisa diterima dalam teologi Kristiani. Cendikiawan muslim Averroes memperbaiki sebagian filsafat Aristoteles, sedangkan Thomas Aquinas mencangkoknya lagi agar menjadi pas dengan teknologi Kristiani.[1][1]
Keempat orang ini telah melincinkan jalannya sejarah filsafat, tapi tidak ada di antara mereka yang seutuhnya mengajukan filsafat baru yang mereka susun sendiri. Pada hakikatnya, karya-karya mereka hanyalah berupa komentar dan pengolahan filsafat Plato dan Aristoteles. Dengan cara ini, kedua filsuf yang tidak beragama ini(mereka berdua jelas bukan Yahudi,Muslim, atau nasrani) pun menjadi pilar bagi gereja Kristen. Trik-trik intelektual yang menakjubkan ini menjadi fondasi utama Skolastisisme, sebuah nama yang diberikan bagi kegiatan filsafat pada zaman perntanggahan.[2][2]
Skolatisisme adalah filsafat gereja yang membanggakan diri dengan ketidaksejatiannya. Gagasan-gagasan filsafat revolusioner dianggap sebagai bidaah, Inkuisisi, dan berakhir menjadi abu di tempat pembakaran. Gagasan-gagasan Plato dan Aristoteles pun akhirnya secara perlahan-lahan terkubur ditengah komentar-komentar teologi Kristiani, sehingga filsafat pun layu kering.Pada pertangahan abad kelima belas, tahap perkembangan yang “mati enggan hidup tak mau” ini dialami dalam hampir semua bidang upaya intelektual.

Kekuasaan Gereja menyelimuti seluruh dunia zaman pertenggahan. Tetapi pada masa yang dipenuhi dengan kepastian intelektual yang berlebih-lebihan inilah terjadi letupan pertama; Ironisnya, yang menjadi letupan pertama tersebut juga berasal dari dunia klasik yang sama, yang dihasilkan oleh Plato dan Aristoteles. Banyak pembelajaran yang telah hilang atau dilupakan pada Zaman Kegelapan akhirnya mulai medapatkan penerangan kembali, mengilhami suatu Renaissance(kelahiran kembali) pengetahuan manusia.[3][3]
 Renaissance mengusung pula suatu pandangan dengan reformasi yang mengakhiri hegemoni Gereja. Namun demikian, di tengah-tengah suasana pembaharuan tersebut, filsafat masih saja berada dibawah Skolastisisme. Filsafat baru bisa bangkit kembali setelah datangnya Rene Descartes yang menghasilkan filsafat baru yang berdasarkan pada akal atau dikenal dengan rasionalisme. Dalam waktu yang singkat filsafatnya menyebar hampir keseluruh benua Eropa dan menjadi sebuah aliran filsafat baru yang terkenal dengan nama Cartesianisme.
          Descartes menjadi pelopor dan tokoh rasionalisme serta besar pengaruhnya pada abad-abad yang mengikutinya. Descartes merupakan bapak filsafat modern karena dia yang menghidupkan kembali filsafat pada masa itu dengan metode sendiri dan terlepas dari pemikiran tokoh filosof yang lain. Metode yang digunakannya adalah metode keragu-raguan. Walaupun ahli-ahli filsafat sesudah Descartes tidak semua setuju dengan pemikirannya, tetapi mereka menerima kedaulatan budi seluruhnya yang merupakan pangkal dan sumber berfikir. Penganut rasionalismenya adalah Spinoza dan Leibniz.
Secara histori filsafat Barat dapat di bagi ke dalam empat kurun waktu, yaitu:
1.      Zaman Yunani Kuno(600SM-400M)
2.      Abad Pertengahan(400-1500)
3.      Zaman Modern(1500-1800)
4.      Zaman Sekarang(1800-sekarang)[4][4]
Adapun yang akan menjadi permasalahan yang akan menjadi bahasan dalam makalah ini adalah tentang tokoh-tokoh penganut aliran rasionalisme.



          Berdasarkan uraian di atas dapat diidentifikasikan permasalahan sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan rasionalisme?
2.      Siapa tokoh-tokoh rasionalisme ?
3.      Bagaimana corak berfikir tokoh-tokoh filsafat?
Adapun tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui pengertian rasionalisme, tokoh-tokohnya dan corak pemikiran tokoh-tokoh filsafatnya.
Dalam menyusun makalah ilmiah ini penulis melakukan penelitian kepustakaan(library research) dengan pendekatan deskriptif, yaitu suatu penelitian dengan mengumpulkan data-data dan menganalisa serta menarik kesimpulan dari data tersebut dengan mengadakan library research, yaitu dengan cara menelaah sejumlah buku-buku, web untuk memperoleh data-data, teori-teori dan konsep-konsep yang berhubungan lansung dengan makalah ini. Dengan menggunakan metode dan teknik pengumpulan data tersebut, kiranya dapat mendukung dalam penulisan makalah ini.




BAB II
PEMBAHASAN
RASIONALISME: TOKOH DAN PEMIKIRANNYA

Oleh
Sari Masyita
A.        Konsep Rasionalisme

1.      Pengertian Rasionalisme

    Aliran rasionalisme berpendapat, bahwa sumber pengetahuan yang mencukupi dan dapat dipercaya adalah rasio(akal). Hanya pengetahuan yang diperolah melalui akallah yang memenuhi syarat yang dituntut oleh sifat umum dan yang perlu mutlak, yaitu syarat yang dituntut oleh semua pengetahuan ilmiah. Pengalaman hanya dapat dipakai untuk meneguhkan pengetahuan yang telah didapatkan oleh akal. Akal tidak memerlukan pengalaman. Akal dapat menurunkan kebenaran daripada dirinya sendir, yaitu ats dasar asas-asas pertama yang pasti. Metode yang diterapkan adalah deduktif dan teladan yang dikemukakan adalah ilmu pasti.[5][5]
          Rasio merupakan sumber kebenaran. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang kepada kebenaran. Yang benar hanyalah tindakan akal. Karena rasio saja yang dianggap sebagai sumber kebenaran, maka aliran ini disebut rasionalisme. Adapun pengetahuan indera dianggap sering menyesatkan. Rasionalisme adalah paham filsafat yang menyatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Menurut aliran rasionalis, suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir.[6][6]
          Akal merupakan alat satu-satunya mencari kebenaran. Menurut rasionalis indera hanya menyesatkan saja, seperti sebuah bulpen yang dicelupkan ke dalam air, maka ia seperti bengkok, padahal pada kenyatannya bullpen tersebut tidak bengkok, dari contoh tersebut bisa di ambil kesimpulan bahwa indera sangat menipu dan akallah yang mampu mencari jwaban dari kebenaran sesuatu.
          Aliran rasionalisme ada dua macam, yaitu dalam bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama, aliran rasionalisme adalah lawan dari otoritas dan biasanya digunakan untuk mengkritik ajaran agama. Adapun dalam bidang filsafat, rasionalisme adalah lawan dari empirisme dan sering berguna dalam menyusun teori pengetahuan. Hanya saja, empirisme mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan jalan mengetahui objek empirisme, sedangkan rasuionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir, pengetahuan dari empirisme dianggap sering menyesatkan. Adapun alat berfikir adalah kaidah-kaidah yang logis.[7][7]
           Ahmad Tafsir juga menjelaskan bahwa rasionalisme adalah faham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat penting dalam memperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan. Sejarah rasionalisme sudah tua sekali. Thales telah menerapkan rasionalisme dalam filsafatnya. Ini dilanjutkan dengan jelas sekali pada orang-orang sofis dan tokoh-tokoh penentangnya (Socrates, Plato, Aristoteles).[8][8]
            Pada zaman modern muncullah tokoh-tokoh filsafat baru yang menganut paham rasionalisme. Mereka muncul karena mereka tak setuju dan tak sepaham dengan ajaran agama mereka sendiri. Adapun tokoh pertama rasionalisme ialah Descartes, selanjutnya Spinoza dan Liebniz dari Jerman.
B.     Tokoh-Tokoh Rasionalisme dan Pemikirannya
1.      Rene Descartes dan Pemikirannya
          Rene Descartes(1596-1650) adalah filsuf Perancis yang dijuluki “bapak filsafat modern”. Ia ahli dalam ilmu alam, ilmu hukum, dan ilmu kedokteran. Ia menyatakan, bahwa ilmu pengetahuan harus satu, tanpa bandingannya, harus disusun oleh satu orang, sebagai bangunan yang berdiri sendiri menurut satu metode yang umum. Yang harus dipandang sebagai hal yang benar adalah apa yang jelas dan terpilah-pilah (clear and distinctively). Ilmu pengetahuan harus mengikuti langkah ilmu pasti karena ilmu pasti dapat dijadikan model cara mengenal secara dinamis.[9][9]
          Rene Descartes mempunyai keinginan yang besar untuk menciptakan  pemikiran yang baru dan berdiri di atas metodenya sendiri. Descartes melihat bahwa filosof-filosof sebelumnya hanya mengomentari pemikiran-pemikiran Plato dan Aristoteles yang menurutnya sangat membingunkan. Semasa Descartes mempelajari filsafat Plato dan Aristoteles Ia meragukan kebenaran pemikiran mereka, sehingga muncullah keingginan yang kuat untuk menemukan sesuatu yang baru di dalam dunia filsafat.
          Rene descartes adalah filosof yang mendirikan aliran rasionalisme . Rasionalisme dapat didefinisikan sebagai paham yang menekankan pikiran sebagai sumber utama pengetahuan dan pemegang otoritas terakhir bagi penentuan kebenaran. Manusia dengan akalnya memiliki kemampuan untuk mengetahui struktur dasar alam semesta secara apriori. Rasionalisme menyatakan bahwa sumber pengetahuan manusia adalah akal atau ide.[10][10]
          Descartes menepikan fungsi  indera dalam menemukan kebenaran, Menurutnya indera hanya menipu dan akallah satu-satunya yang harus menjadi panutan pertama dalam merumuskan kebenaran sesuatu. Seperti ketika sebuah bulpen dicelupkan kedalam air, sekilas terlihat bulpen tersebut bengkok, tetapi pada kenyataannya bulpen tersebut tidaklah bengkok, atau seperti ketika melihat matahari, hal yang terlihat bahwa seakan matahari yang mengelilingi bumi padahal kenyataannya bumi lah yang mengelilingi matahari. Jadi, dari dua contoh tersebut Descartes menarik kesimpulan bahwa indera sangatlah menipu dan tidak bisa dijadikan sebagai alat satu-satunya dalam mencari kebenaran. Tetapi fungsi akallah yang harus diutamakan.
          Akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia, menurut aliran ini, memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap objek.[11][11] Dan kesimpulannya adalah segala sesuatu yang masuk akal disebut dengan rasional.[12][12]
          Akal manusia merupakan salah satu potensi jiwa, dan disebut rasional soul. Ia ada dua macam, pertama praktis bertugas mengendalikan badan dan mengatur tingkah laku. Kedua, teoritis khusus berkenaan dengan persepsi dan epistimologi, karena akal praktis inilah yang menerima persepsi-persepsi inderawi dan meringkas pengertian-pengertian universal daripadanya dengan bantuan akal aktif, yang terhadap jiwa kita bagaikan matahari terhadap pandangan mata kita.  Dengan akal, kita bisa menganalisa dan membuktikan. Dengan akal pula, kita menyingkap realita-realita ilmiah, karena akal merupakan salah satu pintu pengetahuan.[13][13]
          Akal merupakan suatu anugerah yang diberikan kepada manusia yang digunakan untuk berfikir dan  untuk mencari hakikat sesuatu atau dalam mencari kebenaran. Dengan akal pula manusia bisa mengetahui sruktur alam dan masih banyak lagi hal-hal lainnya yang mampu dikenal dan diketahui melalui akal.
          Descartes melahirkan beberapa pemikirannya dengan metode keragu-raguan . Descartes ingin mencapai kepastian. Jika orang ragu-ragu, tampaklah ia berfikir, sehingga ia akan tampak dengan segera adanya sebab dari proses berfikir tersebut. Oleh karena itu, dari metoda keraguan ini, muncullah kepastian tentang eksistensi dirinya. Itulah yang kemudian dirumuskan dengan “cogito ergo sum”(karena saya berfikir, maka saya ada).[14][14]
          Pemikirannya tersebut sangat terkenal bahkan sampai hari ini. Descartes seorang filosof yang mampu mengembangkan pemikirannya secara luas dan tidak takut dicerca oleh filosof yang lain. Terdapat dua filosof yang menganut pemikirannya, yaitu Spinoza dan Leibniz.
2.      Riwayat Hidup Spinoza dan karya-karyanya
          Spinoza dilahirkan pada tanggal 24 November tahun 1632 dan meninggal dunia pada tanggal 21 Februari tahun 1677 M. Nama aslinya Baruch Spinoza. Setelah ia mengucilkan diri dari agama yahudi, ia mengubah namanya menjadi Benedictus de Spinoza. Ia hidup di pinggiran kota Amsterdam. [15][15]Spinoza dilahirkan oleh orang tua Yahudi yang melarikan diri dari pengejaran di Spanyol, ia hidup di Amsterdam sampai dipaksa keluar oleh mereka yang membenci pikiran bebasnya, bahkan sampai ada yang berusaha untuk membunuhnya. Orang-orang dari Kristen ortodoks tidak menyukainya karena apa yang dilihatnya sebagai ateisme.[16][16]
          Spinoza merupakan keturunan dari agama Yahudi. Menurutnya, banyak terdapat keraguan dalam agama yang dianutnya, sehingga Ia ingin melepaskan diri dari agamanya yaitu yahudi dan ia juga mengasingkan diri dan jauh dari masyarakat. Spinoza adalah pengikut Rasionalisme Descartes, Ia memandang sesuatu itu benar melalui akal. Seperti halnya Descartes yang menomor satukan akal dan menepikan indera yang di anggapnya menyesatkan.
          Selain Spinoza ada tokoh filofof lain yang mengikuti pemikiran Rene Descartes, yaitu Leibniz. Dua tokoh terakhir ini juga menjadikan substansi sebagai tema pokok dalam metafisika mereka, dan mereka berdua juga mengikuti metode Descartes. Tiga filosofi ini, Descartes, Spinoza, dan Leibniz, biasanya dikelompokkan ke dalam satu mazhab, yaitu rasionalisme. De Spinoza memiliki cara berfikir yang sama dengan Rene Descartes, ia mengatakan bahwa kebenaran itu terpusat pada pemikiran dan keluasan. Pemikiran adalah jiwa, sedangkan keluasan adalah tubuh, yang eksistensinya berbarengan.[17][17]
3.      Panteisme Spinoza
          Spinoza adalah satu filsuf istimewa yang tidak hanya percaya pada apa yang             dikatakannya, tetapi juga bertindak sesuai dengannya. Bahkan ia menolak jabatan filsafat di Heidelberg karena itu merupakan posisi resmi, dan bahwa hal itu menerima ide-ide dan pembatasan-pembatasan resmi. Dari segala sisi, ia adalah orang yang jujur, terhormat, dan sopan. Tentu saja hal ini menyebabkan ia diserang hampir oleh setiap orang, bahkan setelah ia mati.                      Karya besarnya,”Ethics”, tidak diterbitkan semasa hidupnya, dan buku-bukunya yang lain, yang dirumuskan dengan tajam”Tractatus Theologico Politicus”dan “Tractatus Politicus”, Pengaruhnya tidaklah besar. Seperti Descartes, Spinoza yakin bahwa dengan mengikuti metode geometri , kita dapat menghasilkan pengetahuan yang tepat mengenai dunia nyata. Namun, keyakinannya lebih jauh daripada Descartes, ia berusaha untuk menyusun suatu Geometri Filsafat.[18][18]
          Spinoza mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan kebenaran sesuatu, sebagaimana pertanyaan, apa substansi dari sesuatu, bagaimana kebenaran itu bisa benar-benar yang terbenar. Spinoza menjawabnya dengan pendekatan yang juga dilakukan sebelumnya oleh Rene Descartes, yakni dengan pendekatan deduksi matematis, yang dimulai dengan meletakkan definisi, aksioma, proposisi, kemudian berubah membuat pembuktian (penyimpulan) berdasarkan definisi, aksioma, atau proposisi itu.[19][19]
          Bagi Spinoza hanya ada satu substansi, yaitu Tuhan. Dan satu substansi ini meliputi baik dunia maupun manusia. Itulah sebabnya pendirian Spinoza disebut penteisme, Tuhan disamakan dengan segala sesuatu yang ada. Spinoza juga beranggapan bahwa satu substansi itu mempunyai ciri-ciri yang tak terhingga jumlahnya. Namun demkikian kita hanya mengenal dua ciri saja, pemikiran dan keluasan. Pada manusialah kedua ciri tersebut terdapat bersama-sama pemikiran (jiwa) dan serentak juga keluasan tubuh.[20][20]
          Descartes , moyangnya yang amat dekat , membagi substansi menjadi tiga, yaitu tubuh (bodies), jiwa, dan Tuhan. Spinoza berpendapat tentang substansi, Ia menyatakan bahwa hanya ada satu substansi, dan satu substansi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dirusak, ia tidak mempunyai permulaan dan tidak mempunyai akhir.[21][21] Tubuh dan jiwa menurutnya adalah atribut(sifat asasi) yang satu . Tubuh dan jiwa bukan substansi yang berdiri sendiri.
          Spinoza berpendapat bahwa Tuhan dan alam adalah satu dan sama. Teori ini dikenal dengan nama Panteisme (secara harfiah berarti semua adalah Tuhan). Jadi ia menentang baik Yahudi maupun Kristen. Spinoza percaya kepada Tuhan, tetapi Tuhan yang dimaksudkannya adalah alam semesta ini. Tuhan Spinoza itu tidak berkemauan, tidak melakukan sesuatu, tak terbatas (ultimate) . Tuhan itu tidak memperhatikan sesuatu, juga tidak memperdulikan manusia. Inilah penjelasan logis tentang Tuhan yang bahkan Newton sampai terkejut oleh pernyataan itu. Ini tidak dapat diartikan bahwa Spinoza itu materialis. Ia hanya mengatakan, itulah yang diketahui tentang Tuhan. Akibatnya, tindakan manusia dan Tuhan tidak bebas. Dimana-mana di dalam alam semesta ini sebagaimana ia mestinya, semuanya sudah ditentukan.[22][22]
          Substansi adalah apa yang ada dalam dirinya sendiri dan yang mengalaskan pengertian yang mengenai pada dirinya sendiri, Artinya yang pengertiannya tidak memerlukan pengertian dari sesuatu yang lain dengannya ia harus dibentuk. Jadi substansi adalah sesuatu yang berdiri sendiri , yang tidak bergantung kepada apapun juga yang lain. Substansi itu tentu hanya ada satu saja, sebab seandainya ada dua substansi semacam itu, tentu aka nada nisbah antara keduanya. Padahal pengertian nisbah mengandung di dalamnya pengertian ketergantungan. Substansi yang satu itu adalah Allah, yang esa tiada batasnya secara mutlak.[23][23]
          Berdasarkan keyakinan ini maka segala sesuatu yang tak terbatas, dunia dengan segala isinya, tidak dapat berdiri sendiri, melainkan tergantung kepada satu substansi yang satu itu. Substansi yang satu itu berada di dalam segala sesuatu yang beraneka raga ini. Segala yang beraneka ragam mewujudkan cara berada substansi yang satu tadi.
          Di sini kesatuan antara Allah dan alam semesta untuk pertama kali diberi rumusan secara modern. Substansi ini memiliki sebabnya dalam dirinya sendiri. Hakika t(essential) nya mencakup juga keberadaan (existential) nya. Hakekatnya ditentukan oleh atribut-atribut atau sifat-sifat asasinya yang tiada batasnya. Tiap sifat asasi dengan cara yang sempurna mengungkapkan hakekat atau esensinya yang kekal dan tak terbatas itu. Akan tetapi segala hal yang konkrit, yaitu dunia yang berane raga ini, adalah modi atau cara berada satu substansi yang satu itu.[24][24]
          Demikianlah, Pemikiran Spinoza tentang Allah, jiwa dan manusia yang merupakan satu kesatuan. Dan berbeda dengan Descartes yang berpendapat bahwa antara Allah, jiwa dan manusia merupakan sesuatu yang terpisah dan berdiri sendiri. Rasionalisme Spinoza lebih luas dan lebih konsekuen dibanding dengan rasionalisme Descartes . Baginya di dalam dunia tiada hal yang bersifat rahasia, karena akal atau rasio manusia telah mencakup segala sesuatu, juga Tuhan. Bahkan Tuhan menjadi sasaran akal yang terpenting.
4.      Riwayat Hidup Leibniz dan karya-karyanya(1646-1716)
          Leibniz lahir di kota Leipzig, Sachsen pada tahun 1646 meninggal pada tahun 1716. Orang tuanya, terutama ayahnya Friedrich Leibniz sudah sejak awal membangkitkan rasa ketertarikannya terhadap masalah-masalah yuridis dan falsafi. Ayahnya merupakan seorang ahli hukum dan profesor dalam bidang etika dan ibunya adalah putri seorang ahli hukum pula. Gottfried Leibniz telah belajar bahasa Yunani dan bahasa Latin pada usia 8 tahun berkat kumpulan buku-buku ayahnya yang luas. Pada usia 12 tahun ia telah mengembangkan beberapa hipotesa logika yang menjadi bahasa simbol matematika.[25][25]
          Seorang filosof Jerman, matematikawan, fisikawan, dah sejarawan. Lama menjadi pegawai pemerintah, menjadi atase, pembantu pejabat tinggi Negara pusat. [26][26] Waktu mudanya ahli pikir Jerman ini mempelajari scholastic. Ia kenal aliran-aliran filsafat modern dan mahir juga dalam ilmu. Ia menerima Substansi Spinoza akan tetapi tidak menerima paham serbatuhannya(panteisme).[27][27]
          Pusat Metafisikanya adalah idea tentang substansi yang dikembangkan dalam konsep monad. Pada usia 15 tahun ia sudah menjadi mahasiswa di Universitas Leizig, mempelajari hukum, tetapi ia juga mengikuti kuliah matematika dan filsafat. Pada tahun 1666, tatkala ia belum berumur 21, ia menerima ijazah doctor dari Universitas Altdorf, dekat Nuremberg, dengan disertasi berjudul De casibus perplexis(On Complex Cases Law). Universitasnya sendiri menolak mengakui gelar doktornya karena umurnya terlalu muda, makanya ia meninggalkan  Leipzig pindah ke Nuremberg.[28][28]
          Pada januari-Maret 1673 Leibniz pergi ke London menjadi atase politik. Di sana ia dapat bertemu dengan banyak ilmuwan seperti Robert Boyle. Tahun 1675 ia menetap di Hannover, dari sana ia jalan-jalan ke London dan Amsterdam. Di Amsterdam ia bertemu dengan Spinoza.[29][29]
5.      Pemikiran Leibniz
          Metasfisika Leibniz sama memusatkan perhatian pada substansi. Bagi Spinoza, alam semesta ini mekanistis dan keseluruhannya bergantung pada sebab, sementara substansi pada Leibniz adalah hidup, dan setiap sesuatu terjadi untuk suatu tujuan. Penuntun prinsip filsafat Leiniz ialah “ prinsip akal yang mencukupi, yang secara sederhana dapat dirumuskan “sesuatu harus mempunyai alasan”. Bahkan Tuhan harus juga mempunyai alasan untuk setiap yang diciptakanNya. [30][30]
          Leibniz juga pengikut aliran rasionalisme sama seperti halnya Spinoza, tetapi keduanya berbeda dalam merumuskan substansi.” Prinsip akal yang mencukupi” merupakan penuntun yang sangat berpengaruh dalam filsafat Leibniz, sehingga pemikiran filsafatnya pun berkembang.
          Leibniz menuliskan karya-karyanya dalam bahasa Latin dan Perancis, seorang ensiklopedis(Orang yang mengetahui segala lapangan pengetahuan pada amsanya). Menurut Leibniz, substansi itu jumlahnya banyak atau tiada terhingga yang kemudian ia namakan sebagai monad. Dalam suatu kalimat yang kemudian terkenal Lebniz mengatakan”monad-monad tidak mempunyai jendela, tempat sesuatu bisa masuk atau keluar”. Pernyataan ini berarti bahwa semuanya monad harus dianggap tertutup seperti cogito Descartes.[31][31]
          Spinoza berpendapat bahwa hanya ada satu substansi, Leipniz berpendapat bahwa substansi itu banyak. Ia menyebut substansi-substansi itu monad. Setiap monad berbeda satu dengan yang lain, dan Tuhan (sesuatu yang supermonad dan satu-satunya monad yang tidak dicipta) adalah sang pencipta monad-monad itu. Maka karya Leiniz tentang ini diberi judul Monadology (studi tentang monad) yang ditulisnya 1714.[32][32] Ini adalah singkatan metafisika Leibniz.
          Ada dua titik fokus leibniz yaitu monadelogi dan konsep Tuhan, leibniz mencoba memberikan penjelasan tentang Tuhan,dan dia mempunyai argumen yang kuat untuk membuktikan ada Tuhan, leibniz mencoba membuktikan tuhan dengan 4 argumen. Pertama, dia mengatakan bahwa manusia memiliki ide kesempurnaan, makanya ada Allah terbukti.  ini disebut bukti ontologis. Kedua, dia berpendapat bahwa , adanya alam semesta dan ketidaksempurnaannya membuktikan adanya sesuatu yang melebihi alam semesta ini, dan yang transeden ini di sebut Allah. Ketiga, dia berpendapat bahwa kita selalu mencari kebenaran yang abadi, tetapi tidak tercapai menunjukan adanya pikiran yang abadi,yaitu Allah. Keempat, leibniz mengatakan bahwa adanya keselarasan di antara monad-monad membuktikan bahwa pada awal mula ada yang mencocokan meraka satu sama lain,yang mencocokannya itu Allah.
         

BAB III
PENUTUP

1.      Kesimpulan
          Rasionalisme adalah faham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat penting dalam memperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan. Sejarah rasionalisme sudah tua sekali. Thales telah menerapkan rasionalisme dalam filsafatnya. Ini dilanjutkan dengan jelas sekali pada orang-orang sofis dan tokoh-tokoh penentangnya (Socrates, Plato, Aristoteles), Pada zaman modern muncullah tokoh-tokoh filsafat baru yang menganut paham rasionalisme. Adapun tokoh pertama rasionalisme ialah Descartes, selanjutnya Spinoza dan Liebniz dari Jerman.
          Rene Descartes(1596-1650) adalah filsuf Perancis yang dijuluki “bapak filsafat modern”. Rene descartes adalah filosof yang mendirikan aliran rasionalisme. Descartes melahirkan beberapa pemikirannya dengan metode keragu-raguan . Descartes ingin mencapai kepastian. Jika orang ragu-ragu, tampaklah ia berfikir, sehingga ia akan tampak dengan segera adanya sebab dari proses berfikir tersebut. Oleh karena itu, dari metoda keraguan ini, muncullah kepastian tentang eksistensi dirinya. Itulah yang kemudian dirumuskan dengan “cogito ergo sum”(karena saya berfikir, maka saya ada.
          Selanjutnya Spinoza. Spinoza adalah satu filsuf istimewa yang tidak hanya percaya pada apa yang  dikatakannya, tetapi juga bertindak sesuai dengannya. Spinoza mempunyai pemikiran bahwa hanya ada satu substansi, yaitu Tuhan. Dan satu substansi ini meliputi baik dunia maupun manusia. Itulah sebabnya pendirian Spinoza disebut penteisme, Tuhan disamakan dengan segala sesuatu yang ada. Spinoza juga beranggapan bahwa satu substansi itu mempunyai ciri-ciri yang tak terhingga jumlahnya. Namun demikian kita hanya mengenal dua ciri saja, pemikiran dan keluasan. Pada manusialah kedua ciri tersebut terdapat bersama-sama pemikiran (jiwa) dan serentak juga keluasan tubuh.
          Filosof terakhir yang mengikuti pemikiran rasionalisme Descartes adalah Leibniz. Leibniz lahir di kota Leipzig, Sachsen pada tahun 1646 meninggal pada tahun 1716. Orang tuanya, terutama ayahnya Friedrich Leibniz sudah sejak awal membangkitkan rasa ketertarikannya terhadap masalah-masalah yuridis dan falsafi.
          Metasfisika Leibniz sama memusatkan perhatian pada substansi. Bagi Spinoza, alam semesta ini mekanistis dan keseluruhannya bergantung pada sebab, sementara substansi pada Leibniz adalah hidup, dan setiap sesuatu terjadi untuk suatu tujuan. Penuntun prinsip filsafat Leiniz ialah “ prinsip akal yang mencukupi, yang secara sederhana dapat dirumuskan “sesuatu harus mempunyai alasan”. Bahkan Tuhan harus juga mempunyai alasan untuk setiap yang diciptakanNya.
2.      Saran
          Demikianlah makalah yang sangat sederhana ini. Penulis sangat yakin bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat di dalam makalah ini. Penulis mengharapkan banyak saran dan kritikan dari bapak pembimbing mata kuliah ini dan juga dari kawan-kawan semuanya agar kiranya makalah ini bisa menjadi lebih sempurna.
          Penulis mohon maaf atas segala keterbatasan dan kekurangan makalah ini.



DAFTAR PUSTAKA
Asmoro Achmadi,Filsafat Umum,Cet I(Jakarta:Rajawali Pers)
Akhyar Yusuf Lubis,Filsafat Ilmu Pengetahuan,Cet I(Depok:Penerbit Koekoesan)
Ahmad Tafsir,Filsafat Umum(Bandung:PT Remaja Rosdakarya)
Ahmad Tafsir,Filsafat Umum akal dan hati sejak Thales sampai capra(Bandung:PT Rosdakarya)2005
Atang Abdul hakim,Filsafat Umum Dari Metodologi Sampai Teolosofi,Cet I(Bandung:Pustaka Setia)
Hasan Bakti Nasution,Filsafat Ilmu,Cet I(Depok:Indie Publishing)
Harun Hadiwijono , Sari Sejarah Filsafat Barat, Cet 19(Yogyakarta:Kanisius)2005
Juhaya S.Praja,Aliran-aliran Filsafat dan etik,Cet I(Bogor:kencana)2003
Suparlan Suhartono, Sejarah Pemikiran Filsafat Modern,Cet I(Jogjakarta:Ar-Ruzz)2005
Shidarta,Dasar-dasar Filsafat,Cet I(Jakarta:UPT Penerbitan Universitas Tarumanagara)1999
Richard Orborne,Filsafat Untuk Pemula,Cet 7(Yogyakarta:kanisius)2008
Paul Strathern,90 Menit Bersama Descartes(Jakarta:Erlangga)2001
Poedjawijatna,Pembimbing Ke arah Alam Filsafat, Cet 12(Jakarta:PT Rineka Cipta)
Yudian Wahyudi Asmin,Aliran dan Teori Filsafat Islam,Cet I(Jakarta:Bumu Aksara



[1][1] Paul Strathern,90 Menit Bersama Descartes(Jakarta:Erlangga,2001)h.1
[2][2] Paul Strathern,90 Menit Bersama……………….h. 1
[3][3] Paul Strathern,90 Menit Bersama……………….h 2
[4][4] Shidarta,Dasar-dasar Filsafat , Cet I(Jakarta:UPT Penerbitan Universitas Tarumanagara,1999 )h.41
[5][5] Harun Hadiwijono , Sari Sejarah Filsafat Barat, Cet 19(Yogyakarta:Kanisius,2005)h. 19
[6][6] Atang Abdul hakim,Filsafat Umum Dari Metodologi Sampai Teolosofi,Cet I(Bandung:Pustaka Setia)h. 247
[7][7] Atang Abdul hakim,Filsafat Umum Dari Metodologi Sampai,,,,,,,,,,,,,,,,,,h.248
[8][8] Ahmad Tafsir,Filsafat Umum akal dan hati sejak Thales sampai capra(Bandung:PT Rosdakarya,2005)  h.127
[9][9] Asmoro Achmadi,Filsafat Umum,Cet I(Jakarta:Rajawali Pers)h. 115
[10][10] Akhyar Yusuf Lubis,Filsafat Ilmu Pengetahuan,Cet I(Depok:Penerbit Koekoesan)hlm 41
[11][11] Ahmad Tafsir,Filsafat Umum(Bandung:PT Remaja Rosdakarya)hlm 25
[12][12] Hasan Bakti Nasution,Filsafat Ilmu,Cet I(Depok:Indie Publishing)h.151
[13][13] Yudian Wahyudi Asmin,Aliran dan Teori Filsafat Islam,Cet I(Jakarta:Bumu Aksara)h.247
[14][14] Suparlan Suhartono, Sejarah Pemikiran Filsafat Modern,Cet I(Jogjakarta:Ar-Ruzz,2005)h.52
[15][15] Atang Abdul hakim,Filsafat Umum Dari Metodologi Sampai Teolosofi,Cet I(Bandung:Pustaka Setia)h.259
[16][16] Richard Orborne,Filsafat Untuk Pemula,Cet 7(Yogyakarta:kanisius,2008)h.76
[17][17] Atang Abdul hakim,Filsafat Umum Dari Metodologi Sampai…………………………..h.259
[18][18] Richard Orborne,Filsafat Untuk……………………………h.76
[19][19] Atang Abdul hakim,Filsafat Umum Dari Metodologi Sampai…………………………..h.259
[20][20] Juhaya S.Praja,Aliran-aliran Filsafat dan etik,Cet I(Bogor:kencana,2003)h.102
[21][21] Ahmad Tafsir,Filsafat Umum akal dan hati sejak …………………………………………………h.140
[22][22] Ahmad Tafsir,Filsafat Umum akal dan hati sejak ……………...………………………………….h.138
[23][23] Harun Hadiwijono , Sari Sejarah Filsafat ………………………………h.27
[24][24] Harun Hadiwijono , Sari Sejarah Filsafat………………………………h.27
[25][25] http://id.wikipedia.org/wiki/Gottfried_Leibniz,di akses pada tanggal 29 April 2013, pada pukul 07.45
[26][26] Atang Abdul hakim,Filsafat Umum Dari Metodologi Sampai…………………………..h.259
[27][27] Poedjawijatna,Pembimbing Ke arah Alam Filsafat, Cet 12(Jakarta:PT Rineka Cipta)h.103
[28][28] Ahmad Tafsir,Filsafat Umum akal dan hati sejak Thales sampai………………………………….h.139
[29][29] Ahmad Tafsir,Filsafat Umum akal dan hati sejak Thales sampai……………………………….h.139
[30][30] Ahmad Tafsir,Filsafat Umum akal dan hati sejak Thales sampai……………………………….h. 139
[31][31] Juhaya S.Praja,Aliran-aliran Filsafat dan…………………………..h. 103
[32][32] Ahmad Tafsir,Filsafat Umum akal dan hati sejak Thales sampai………………………h.139

Tidak ada komentar:

Posting Komentar