KULIAH BUKAN UNTUK MENCARI IJAZAH..TAPI, UNTUK BELAJAR

"Seribu Orang Tua Hanya Bisa Bermimpi. Tetapi seorang Pemuda Bisa Mengubah Dunia"

"Saat Kita Punya Sedikit saja rasa peduli akan SEKITAR. Disitu Kita telah Memperbaiki Kualitas Pendidikan Negara Kita"

(bernata manalu)

Sabtu, 25 April 2015

PARMALIM-HORAS BATAK



Indonesia adalah negeri yang sangat kaya dengan beragam budaya, tradisi dan juga kerpercayaan atau agama. Salah satunya adalah Parmalim adalah merupakan agama  asli suku Batak.
Dengan masuk dan berkembangnya agama asing yaitu Kristen dan Islam ke wilayah tersebut maka agama lokal tersebut mulai terpinggirkan. Mereka sering disebut sebagai agama sesat. Kondisi ini tidak jarang memicu terjadinya tindakan kekerasan.  Hal yang seharusnya tabu dilakukan dalam kehidupan beragama. Apa itu Parmalin dan bagaimana ajaran serta kehidupan para pengikutnya, berikut ini saya mencoba untuk menuliskannya. [Credit photo :  Petrus M. Sitohang]
Apa itu Parmalim
Parmalim adalah suatu kepercayaan, agama ataupun identitas bagian sebagian masyarakat Batak. Permalim menurut kelembagaannya yang disebut Ugamo (agama) Malim.
Parmalim percaya kepada satu  Tuhan yang mereka sebut dengan nama Ompu Mulajadi na Bolon. Nama ini kadang disingkat menjadi Mulajadi Nabolon. Mereka juga kadang menyebut atau mamakai nama lain seperti Debata atau Pelean Debata. Apapun sebutannya, semuanya merujuk pada satu nama yang sama yaitu Tuhan YME.
Pemerintah sendiri tidak mengakui Permalim sebagai agama, dan status mereka digolongkan tidak lebih sebagai aktivitas budaya yang berada di bawah naungan Departmen Kebudayaan dengan SK Depdikbud RI No 1.136/F.3/N.1.1/1980 tentang himpunan kepercayaan di Indonesia. [Credit photo :  Johnny Siahaan]
Identitas dan  Filosofi
Ciri khas dan dasar dari kepercayaan Parmalim itu adalah kearifan lokal khusunya yang berhubungan manusia, Tuhan dan alam. Salah satu contoh mudahnya adalah larangan untuk  menebang pohon tanpa menanam tunas baru. Mereka juga tidak boleh merusak tunas kecil saat merobohkan pohon besar.
Agama Parmalim memilki sejumlah keunikan yang beberapa diantaranya adalah dari cara berbusana. Dalam upacara, laki-laki yang telah menikah biasanya mengunakan sorban seperti layaknya orang muslim serta menggunakan sarung dan Ulos, selendang khas Batak. Sementara yang wanitanya menggunakan pakian adat yaitu sejenis sarung serta konde pada rambut.
Keunikan lain yang juga tidak kalah uniknya adalah tentang makanan. Mereka pantang untuk mengkonsumsi daging babi, anjing dan darah sehingga memiliki kemiripan dengan ajaran Islam. Tempat ibadah disebut Bale Parpitaan dan Bale Partonggoan. Ibadah dilakukan pada hari Sabtu. Kitab Suci disebut Tumbaga Holing, Pembawa Agama/Tokoh Spiritual disebut Raja Uti.
Mereka memiliki dua hari peringatan besar setiap tahunnya yaitu Sipaha Sada dan Sipaha Lima. Sipaha Sada ini dilakukan saat masuk tahun baru Batak yang dimulai setiap bulan Maret. Sedangkan Sipaha Lima yang dilakukan saat bulan Purnama yang dilakukan antara bulan Juni-Juli.
Ikatan dan Interaksi Sosial
Setiap tahun masing-masing warga mengumpulkan sejumlah tertentu padi atau uang dalam lumbung (kas). Tujuannya menyantuni kehidupan warga yang tidak mampu. Yatim piatu dan warga miskin dijamin oleh harta bersama ini. Yang kurang mampu tidak diwajibkan memberikan hingga kehidupannya semakin baik, namun mempunyai hak yang sama. 1)
Parmalim tidak mengenal konsep panti karena dalam budaya batak adat do palumehon pinahan, alai tihas do palumehon jolma. Memeliharakan ternak adalah biasa dengan konsep bagi hasil, namun memeliharakan manusia (karena cacat, miskin dan jompo) adalah pantangan besar. 2)
Bentuk apa pun manusia yang dianugerahkan kepada keluarga adalah menjadi tanggungjawab keluarga dan komunitasnya. Konsep itu tetap hidup dalam Parmalim sehingga warga Parmalim dalam keadaan apa pun tidak dianjurkan masuk panti asuhan dan tidak berusaha membentuk panti. Kehidupannya dijamin dengan adanya Ugasan Torop. 3). Sumber : 1-3, http://www.parmalim.com [credit photo: thejakartapost.com]
Tokoh
Pembaca pasti tahu dan mengenal nama Sisingamangarja bukan? Kalau belum tahu berarti kebangetan.  Beliau adalah salah seorang pejuang kemerdekaan dari daerah Batak dan sekaligus juga merupakan seorang tokoh pada agama Parmalim.
Permalim dewasa ini
Kini penganut Parmalin ini mencapai 7000 orang termasuk yang bukan orang Batak. Mereka tersebar di 39 tempat di Indonesia termasuk di Singkil Nanggroe Aceh Darussalam. Pusat agama Parmalim terbesar berada di Desa Hutatinggi, 4 kilometer dari kecamatan Laguboti Kabupaten Toba Samosir Sumatera Utara. Orang lebih mengenalnya sebagai Parmalim Hutatinggi. Di desa ini ada rumah ibadah orang Parmalim yang disebut Bale Pasogit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar