KULIAH BUKAN UNTUK MENCARI IJAZAH..TAPI, UNTUK BELAJAR

"Seribu Orang Tua Hanya Bisa Bermimpi. Tetapi seorang Pemuda Bisa Mengubah Dunia"

"Saat Kita Punya Sedikit saja rasa peduli akan SEKITAR. Disitu Kita telah Memperbaiki Kualitas Pendidikan Negara Kita"

(bernata manalu)

Tampilkan postingan dengan label PAHAM DUNIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PAHAM DUNIA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Mei 2015

SEMANGAT PERGERAKAN



MENYEMAI BENIH SEMANGAT BAH SHALAL


Kiai Sahal meninggal pada 24 Januari 2014, sudah satu tahun kita kehilangan sosok guru bangsa. Peringatan haul pertama kali ini diadakan pada 14 Januari bertepatan dengan 22 Rabiul Awwal dengan acara puncak rangkaian tahlil akbar dan khotmil qur’an.
Kiai Sahal terkenal sebagai pencetus fikih sosial. Keilmuan dan pemikiran inilah yang membawa beliau mendapatkan gelar doktor Honoris Causa (HC) pada tahun 2003 dalam bidang fikih dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Diantara perjuangan Kiai Sahal dalam mendengungkan fikih sosialnya terkait pendayagunaan zakat untuk pemecahan problem kemiskinan dan  kesenjangan antara yang kaya dan miskin. Kedua, pelestarian lingkungan hidup yang harus dijaga. Ketiga, relokasi prostitusi. Keempat, sikap mendorong persaudaraan islam (ukhwah islamiyyah) terhadap perbedaan di kalangan umat Islam, seperti organisasi sosial kemasyarakatan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyyah dan yang lainnya.
Pemikiran ini terlahir dari kampung halaman tempat beliau tinggal di Kajen Pati, karena ingin mengentaskan kemiskinan dengan ilmu yang dimilikinya yaitu fikih.
Dengan spesialisasi keilmuan inilah beliau memantapkan diri untuk menjadi aktivis organisatoris misal Nahdlatul Ulama (NU), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Lembaga Studi Pembangunan (LSP) dan lainnya.
Perjuangan ini tidak terhenti dalam bidang agama dan kemasyarakatan, hal ini ditambah dalam bidang ekonomi seperti pendirian Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Artha Huda Abadi, bisnis percetakan, dealer masda motor dan usaha yang lainnya.
Dalam berorganisasi, karir Kiai Sahal dimulai dari tingkat paling bawah yaitu kecamatan hingga internasional. Tentu fondasi utama yang tidak dapat ditinggalkan adalah pesantren Maslakul Huda dan Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) yang beliau asuh. Ketika menjadi pemimpin PIM terdapat banyak inovasi dan kreasi yang beliau pelopori. Dengan menggunakan manajemen modern PIM mulai merintis berdirinya madrasah Aliyah, kalender hijriyyah sebagai kalender akademik hingga pendirian Sekolah Tinggi Mathali’ul Falah (STAIMAFA) pada tahun 2008.
Nama PIM digunakan mulai tahun 1960 memiliki arti spirit dinamisme dan progresivisme yang ada dalam perguruan Islam. Sebelumnya masih menggunakan madrasah, harapannya dengan nama yang baru ini Mathaliul Falah maju dan berwawasan luas ke depan dalam mempersiapkan kader umat dan bangsa yang mendalam ilmu agamanya (tafaaqquh fiddin), professional (sholih) dan menjunjung tinggi aspek ketuhanan.
Dalam mengelola PIM Kiai Sahal tidak menggunakan cara-cara kekerasan dalam mendidik santrinya. Beliau lebih mengedepankan bagaimana mengingatkan santrinya menggunakan isyarat tanpa harus menyakiti santri secara fisik. Namun, metode ini ternyata lebih efektif untuk mengingatkan santri dibandingkan harus memukul secara fisik.
Belajar Dari Kiai Sahal  
Tetapi Sahal adalah Sahal, sekali prinsip dipegang, ia akan mempertahankanya dengan teguh. Sahal tak bergeming dan terus berjalan dengan ide-ide besarnya. Hasilnya memang sangat luar biasa. Dengan kemampuan manajemen keorganisasian yang dipelajarinya, Sahal kemudian mampu memegang berbagai peranan penting dalam organisasi, khususnya NU. (Kiai Sahal Sebuah Biografi: 2012)
Kiai Sahal belajar berorganisasi ketika menuntut ilmu di pesantren Kediri, khususnya ilmu ketatanegaraan dan keadministrasian. Yang pada waktu itu masih dianggap tabu untuk dipelajari.
Perjuangan tak kenal lelah dan kekonsistenan Kiai Sahal menunjukkan kualitas yang baik dalam mengelola NU. Sebagai rois amm syuriyah PBNU memegang teguh khittah 1926. Beliau secara tegas menolak turut campur dalam dunia perpolitikan. Kita bisa mengikutinya dalam kasus Gus Dur dan Hasyim Muzadi.
Dengan piawai pula NU dengan fleksibel mampu memposisikan diri dengan baik ketika salah satu kadernya menjadi presiden ataupun ketika menjadi calon wakil presiden. Selama 15 tahun memimpin NU Kiai Sahal tidak pernah berhenti mengingatkan kepada anggota jam’iyyah dan jama’ahnya akan pentingnya khittah 1926. Ini menjadi tulang punggung NU untuk bergerak agar bisa dinamis sepanjang zaman.
Tidak hanya piawai dalam berorganisasi beliau setidaknya memiliki sepuluh kitab yang telah dikarang oleh Kiai Sahal, salah satunya adalah Thariqatal-Hushul ila Ghayahal-Ushul, kitab ini bernafaskan ilmu Ushul Fiqh. Bahkan dipakai di pesantren Sarang, Kediri dan Lirboyo.
Selain itu juga dipakai di madrasah-madrasah sebagai bahan ajar di Tarim, Yaman. Belum karya lain yang diterbitkan oleh LKiS, Pustaka Ciganjur, Thoha Putra, Pustaka Firdaus dan penerbit lain, serta makalah yang tidak dipublikasikan, masih banyak lagi.
Terakhir, beliau juga mendapatkan penghargaan Tokoh Perdamaian Dunia (1984), Manggala Kencana Kelas I (1985-1986), Bintang Mahaputra Utama (2000) dan Tokoh Pemersatu Bangsa (2002). Selain itu kita juga bisa melihat karya tulis, buku dan kitab yang telah beliau sumbangkan dalam dunia pemikiran Islam. Dari sekian banyak kontribusinya inilah kita bisa meneladani semangat yang telah dikobarkan oleh Kiai Sahal. Semoga.

Selasa, 19 Mei 2015

KONSTRUKSI BANGUNAN PSD III DESAIN ARSITEKTUR - UNDIP KONSTRUKSI RANGKA ATAP ATAP (KARYA ANAK PAKKAT)

Atap merupakanbagian mahkota bangunan. Atap berfungsi sebagai bagian dari keindahan dan pelindung bangunan dari panas dan hujan. Kemiringan untuk genteng kemiringan minimal 350 dan maksimal 650, kalau atap menggunakan seng atau alumunium kemiringannya 18 – 20 . Kuda-kuda merupakanbagian yang memberi bentuk pada atap bangunan. Jarak antara kuda – kuda biasanya tidak lebih dari 3 m, kadang sampai 4m supaya ukuran gording dan balok bubungan tidak terlalu besar. Konstruksi rangka atap artinya dimulai dari menghitung kebutuhan bahan, membuat dan memasang konstruksi sehingga menjadi satuan konstruksi rangka atap pada bangunan . Dalam pekerjaan ini diambil salah satu contoh konstruksi kuda-kuda bentuk atap pelana dengan bentangan 700 cm atau 7,00 m
Bagian – bagian dari konstruksi atap :
a.Kuda – kuda
b.Konstruksi kuda – kuda terdiri dari (balok meyilang di atas usuk,
ukuran 2/3 cm
c.Balokk tarik (balok paling bawah dari kuda-kuda, ukuran 8/12 cm)
d.Kaki kkuda-kuda (balok diagonal luar, ukuran 8/12 cm)
e.Ander (balok vertical di tengak, ukuran 8/12 cm)
f.Skor (balok diagonal di tengah, ukran 8/12 cm)
g.Balok gapit (balok penjepit agar tidak muntir, ukuran 2x6/12 cm)
h.Balok pengunci (untuk memperkuat sambungan, ukuran 8/12 cm)
i.Gording (balok melintang di atas kaki kuda-kuda,ukuran 8/12 cm)
j.Nook (balok meyilang di atas ander, ukkuran 812 cm)
k.Murplat (balok di atas tembok, ukuran 8/12 cm)
l.Usuk (balok melintang di nook,gording,murplat,ukuran 5/7 cm)
m.Reng
KONSTRUKSI BANGUNAN
Berikut adalah bagian kuda-kuda dan fungsinya :
1.Kaki kuda-kuda :
Kaki kuda-kuda ini berfungsi sebagai tumpuan balok gording dan beban diatasnya.Selain itu kaki kuda-kuda ini dibuat dengan batang miring yang menunjukan sudut kemiringan atap.
2.Balok Datar Yaitu sebuah batang tarik yang berfungsi menahan gaya horizontal yang terjadi oleh gaya yang bekerja pada kaki kuda-kuda.
3.Balok penggantung Yaitu batang tegak yang berfungsi untuk menahan lentukan yang terjadi pada balok datar
4.Balok penyokong Yaitu batang yang berfungsi untuk menyokong kaki kuda-kuda agar tidak melengkung oleh beban dari balok gording.
5.Balok gapit Berfungsi untuk menggapit rangka kuda-kuda agar tidak melentur ke samping.
6.Usuk atau Kaso Ukuran yang dipakai adalah 5/7 dan dipasang menumpu pada balok gording,balok bubungan dan balok tembok.
7.Bubungan genteng. Ukuran yang dipakai pada umumnya adalah 2/20 dan dipasang pada balok bubungan untuk menahan genting kerpus dan adukan perekatnya.











BERAS PALSU BEREDAR---PAKKAT INTELLECT

Ada saja ulah segelintir orang yang ingin memiliki keuntungan lebih dalam berbisnis. Sayangnya, banyak dari mereka memakai cara konyol sehingga menimbulkan beragam efek negatif bagi konsumennya. 
Kini, tak hanya makanan siap saji yang berbahaya jika dikonsumsi masyarakat. Namun, makanan yang diolah sendiri pun sama bahaya seperti yang sedang menjadi perbincangan publik beberapa waktu ini.
Masyarakat Tanah Air tiba-tiba dihebohkan dengan beredarnya beras palsu atau beras yang terbuat dari bahan plastik berbahaya yang kini sudah memasuki kawasan Bekasi, Jawa Barat.
Sontak, kabar tersebut pun langsung mendapat sorotan masyarakat. Pasalnya, mereka panik dan takut jika mengkonsumsi beras dan saat akan membeli beras karena mereka tidak bisa membedakan mana beras yang asli dan sintesis.


Minggu, 17 Mei 2015

MAKLUMAT Relawan Jokowi-BARA JP-PAKKAT

MAKLUMAT Relawan Jokowi:

1. Tanpa konsolidasi di bidang politik

maka situasi negara akan menjadi tidak kondusif yang pada akhirnya menyulitkan pembangunan ekonomi. Tanpa konsolidasi birokrasi yang sistematis dan berkelanjutan untuk menjadi birokrasi yang efisien, efektif, melayani dan profesional maka program pemerintah tidak akan dapat berjalan dengan baik.

2. Perlu dilakukan evaluasi terhadap kebijakan-kebijakan yang tidak mendukung implementasi Tri Sakti dan Nawacita, yang menjadi mandat bagi pemerintahan Bapak Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Kebijakan-kebijakan yang tidak sejalan harus segera disempurnakan dan terobosan-terobosan harus segera diambil agar janji-janji perubahan dan kesejahteraan rakyat dapat diwujudkan.

3. Mendesaknya kebutuhan untuk melakukan evaluasi dan penguatan terhadap kabinet agar dapat bekerja secara efektif dan sejalan dengan semangat Tri Sakti dan Nawacita. Relawan berharap agar evaluasi terhadap kabinet memperhatikan dengan sungguh-sungguh dinamika sosial dan politik yang berkembang saat ini dan kebutuhan untuk melakukan akselerasi terhadap kinerja pemerintahan di masa depan.

4. Perlunya dipastikan agar pembangunan ekonomi dan percepatan proyek-proyek infrastruktur dilakukan dalam semangat berdiri di atas kaki sendiri. Dimana modal asing diletakkan sebagai pelengkap terhadap kekuatan modal nasional, bukan sebagai sumber utama.

5. Perlunya sesegera mungkin dilahirkan berbagai kebijakan dan program yang mendorong produktivitas rakyat, sebagai penyangga ketahanan ekonomi dan sarana untuk mencapai kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu distribusi atau pemerataan terhadap sumber dan alat produksi bagi rakyat adalah keharusan yang tidak dapat ditawar. Realisasi Tanah untuk rakyat, alat pertanian untuk tani dan alat tangkap untuk nelayan serta modal usaha untuk usaha mikro sudah sangat mendesak agar pembangunan infrastruktur memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi rakyat.

(http://m.jpnn.com/news.php?id=304390)


Kamis, 14 Mei 2015

Rekonstruksionisme

Aliran rekonstruksionisme pada prinsipnya sepaham dengan aliran perennialisme, yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern. Walaupun demikian, prinsip yang dimiliki aliran rekonstruksionisme tidaklah sama dengan prinsip yang dipegang perennialisme. Keduanya mempunyai visi dan cara yang berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang serasi dalam kehidupan. Aliran perennialisme memilih cara sendiri, yakni dengan kembali ke alam kebudayaan lama atau dikenal dengan “regressive road to culture” yang mereka anggap paling ideal. Sementara itu aliran rekonstruksionisme menempuh dengan jalan berupaya membina suatu konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertinggi dalam kehidupan umat manusia.
Untuk mencapai tujuan itu, rekonstruksionisme berusaha mencari kesepakatan semua orang mengenai tujuan utama yang dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan baru pada seluruh lingkungannya. Maka melalui lembaga dan proses pendidikan, rekonsruksionisme ingin merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang sama sekali baru.
Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Karenanya pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.
Kemudian aliran ini memiliki potensi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Cita-cita demokrasi yang sungguh bukan hanya sekedar teori tetapi harus menjadi kenyataan, sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi, mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, nasionalisme dan agama (kepercayaan).

B.     Teori pendidikan rekonstruksionisme
Teori pendidikan rekonstruksionisme yang dikemukakan oleh brameldterdiri dari Enam tesis,yaitu;
1.    Pendidikan harus dilaksanakan disini dan sekarang dalam rangka menciptakan tata sosial baru yang akan mengisi nilai- nilai dasar budaya kita, dan selaras dengan yang mendasari kekuatan–kekuatan ekonomi, dan sosial masyarakat modern. sekarang peradaban menghadapi kemungkinan penghancuran diri. Pendidikan harus meseponsori perubahan yang benar dalam nurani manusia.oleh karena itu, kekuatan tehnologi yang sangat kuat harus dimamfaatkan untuk membangun ummat manusia ,bukan untuk menghancurkannya. Masyarakat harus diubah bukan melalui tidakan politik, melainkan dengan cara yang sangat mendasar, yaitu melalui pendidikan bagi warganya, menuju suatu pandangan baru tentang hidup dan kehidupan mereka bersama.
2.    Masyarakat baru harus berada dalam kehidupan demokrasi sejati, dimana sumber dan lembaga utama dalam masyarakat dikontrol oleh warganya sendiri.semua yang mempengaruhi harapan dan hajat masyarakat seperti, sandang, pangan, papan, kesehatan, industri dan sebagainya, semuanya akan menjadi tanggung jawab rakyat, melalui wakil-wakil yang dipilih. Masyarakat ideal adalah masyarakat yang demokrasi. struktur, tujuan, dan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan tata aturan baru harus diakui merupakan bagian dari pendapat masyarakat.
3.      Anak, sekolah, dan pendidikan itu sendiri dikondisikan oleh kekuatan budaya dan sosial. Menurut rekonstruksionisme, hidup beradap adalah hidup berkelompok, sehingga kelompok akan memainkan peran yang penting disekolah. Pendidikan merupakan realisasi dari sosial (social self realization). Melalui pendidikan indifidu tidak hanya mengembangkan aspek-aspek sifat sosialnya melaikan juga belajar bagaimana keterlibatannya dalam perencanaan sosial. Sehingga dari sini kita bisa lihat bahwa rekontruksi tidak mengabaikan masyarakat yang sangat berperan dalam membentuk individu.
4.      Guru harus meyakini terhadap validitas dan urgensi dirinya dengan cara bijaksana yaitu dengan memperhatikan prosedur yang demokratis.guru harus mengadakan pengujian secara terbuka terhadap fakta- fakta, walaupun bertentangan dengan pandangannya. Guru mendatangkan beberapa pemecahan alternative dengan jelas, dan ia memperkenankan siswa-siswanya untuk memprtahankan pandangan-pandangan mereka sendiri.
5.   Cara dan tujuan pendidikan harus diubah kembali seluruhnya dengan tujuan untuk menemukan kebutuhan –kebutuhan yang berkaitan dengan krisis budaya dewasa ini, dan untuk menyesuaikan kebutuhan dengan sains sosial. Yang penting dari sains sosial adalah mendorong kita untuk menemukan nilai- nilai, dimana manusia peercaya atau tidak bahwa nilai- nilai itu bersifat universal.
6.      Kita harus meninjau kembali penyusunan kurikulum, isis pelajaran, metode yang dipakai,struktur administrasi, dan cara bagaimana guru dilatih.semua itu harus dibangun kembali bersesuaian dengan teori kebutuhan tentang sifat dasar manusia secara rasional dan ilmiah. Kita harus menyusun kurikulum dimana pokok- pokok dan bagiannya dihubungkan secara integral, tidak disajikan sebagai suatu sekuensi komponen pengetahuan.
C.    Pandangan-pandangan tentang rekontruksionisme
1.      Pandangan Ontology
Dengan antologi dapat mengetahui tentang bagaimana hakekat dari segala sesuatu, Aliran rekonsrtuksionisme memandang bahwa realita itu bersifat universal, yang mana realita itu ada dimana dan sama disetiap tempat. Menurut Noor Syam.Untuk mengerti suatu realita beranjak dari sesuatu yang kongkrit dan menuju kearah yang khusus menampakkan diri dalam perwujudan sebagai mana yang kita lihat dihadapan kita dan ditangkap oleh panca indra manusia seperti hewan,dan tumbuhan atau bneda lain disekeliling kita ,dan realita yang kita ketahui dan kita hadapi tidak terlepas darisuatu system, selain subtansi yang dipunyai dari tiap- tiap benda tersebut, dan dapat dipilih melalui akal pikiran.
2.      Pandangan Epistimologis
Kajian epistimologis aliran ini berpijak pada pola pemikiran bahwa untuk memahami realita alam nyata memerlukan suatu azaz tahu, dalam arti bahwa tidak mungkin memahami reaalita ini tampa melalui proses pengalaman dan hubungan dengan realita terlebuh dahulu melalui penemuan suatu pintu gerbang ilmu pengetahuan. Karenanya baik indra maupun rasio sama-sama berfungsi membentuk pengetahuan, dan akal dibawa oleh panca indra menjadi pengetahuan dalam yang sesungguhnya.
3.      Pandangan Ontologis
Barnadib mengungkapkan bahwa aliran rekonstruksionisme memandang masalah nilai berdasarkan azas- azas supera natural yakni menerima nilai natural yang universal, yang abadi berdasarkan prinsip nilai teologis. Hakikat manusia adalah emanasi (pancaran ) yang potensial yang berasal dari dan dipimpin oleh tuhan dan atas dasar inilah tinjauan tentang kebenaran dan keburukan dapat diketahuinya. Kemudian manusia sebagai subyek telah mempunyai potensi- potensi kebaikan dan keburukan sesuai dengan kodratnya.
D.    Macam-macam Pendekatan Rekontruksionisme
Pendektan ini juga disebut Rekontruksi Sosial karena memfokuskan kurikulum pada masalah-masalah penting yang dihadapi dalam masyarakat, seperti polusi, ledakan penduduk, dan lain-lain. Dalam gerakan rekontruksionisme terdapat dua kelompok utama yang sangat berbeda pandangan tentang kurikulum, yakni :
1. Rekontruksionisme Koservatif, Aliran ini menginginkan agar pendidikan ditujukan kepada peningkatan mutu kehidupan individu maupun masyarakat dengan mencari penyelesaian masalah-masalah yang paling mendesak yang dihadapi masyarakat. Masalah-masalah dapat bersifat local dan dapat dibicarakan di SD, ada pula yang bersifat daerah, nasional, regional, dan internasional bagi pelajar SD dan Perguruan Tinggi. Dalam PBM-nya metode problem solving memegang peranan utama dengan menggunakan bahan dari berbagai disiplin ilmu. Peranan guru ialah sebagai orang yang menganjurkan perubahan (agent of change) mendorong siswa menjadi partisipan aktif dalam proses perbaikan masyarakat. Pendekatan kurikulum ini konsisten dengan falsafah pragmatisme.
2.  Rekontruksionisme Radikal, pendektan ini berpendapat bahwa bnyak Negara mengadakan pembangunan dengan merugikan rakyat kecil yang miskin yang merupakan mayoritas masyarakat. Elite yang berkuasa mengadakan tekanan terhadap masa yang tak berdaya melalui system pendidikan yang diatur demi tujuan itu. Golongan radikal ini menganjurkan agar pendidikan formal maupun pendidikan non formal mengabdikan diri demi tercapinya orde social baru berdasarkan pembagian kekuasaan dan kekayaan yang lebih adil dan merata. Mereka berpendapat bahwa kurikulum yang sekedar mencari pemecahan masalah social tidak memadai masa social justru merupakan indicator adanya masalah lain yang lebih mendalam mengenai struktur social baru. Mereka berpendapat bahwa sekolah yang dikembangkan Negara bersifat opresif dan tidak humanistic serta digunakan sebagai alat golongan elit untuk mempertahankan status quo.
Untuk pendirian saling bertentangan ini, baik yang konservatif maupun yang radikal mempunyai unsur kesamaan. Masing-masing berpendirian bahwa misi sekolah, ialah untuk mengubah dan memperbaiki masyarakat. Pemberdayaan terletak pada definisi atau tafsiran tentang “perbaikan” dan cara pendektan terhadap masalah itu. Golongan konservatif bekerja dalam rangka struktur yang ada untuk memperbaiki kualitas hidup.Mereka berasumsi bahwa masalah-masalah social adalah hasil ciptaan manusia dan karena itu dapat diatasi oleh manusia. Sebaliknya golongan radikal ingin merombak tata social yang ada dan menciptakan tata social yang baru sama sekali untuk memperbaiki system lebih efektif

Fokus dalam aliran pendidikan Rekonstruksionisme adalah berikut ini.
1.  Promosi pemakaian problem solving tetapi tidak harus dirangkaikan dengan   penyelesaian problema sosial yang signifikan.
2.    Mengkritik pola life-adjustment (perbaikan tambal-sulam) para Progresivist
3. Pendidikan perlu berfikir tentang tujuan-tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Untuk itu pendekatan utopia pun menjadi penting guna menstimuli pemikiran tentang dunia masa depan yang perlu diciptakan.
4.   Pesimis terhadap pendekatan akademis, tetapi lebih fokus pada penciptaan agen perubahan melalui partisipasi langsung dalam unsur-unsur kehidupan.
5.   Pendidikan berdasar fakta bahwa belajar terbaik bagi manusia adalah terjadi dalam aktivitas hidup yang nyata bersama sesamanya.
6.    Learn by doing! (Belajar sambil bertindak).

BAB III
PEMBAHASAN
A. Sejarah Aliran Rekonstruksionisme
Filsafat sebagai hasil pemikiran para ahli telah melahirkan berbagai macam pandangan/ide yang salah satunya ialah lahirnya pandangan tentang filsafat pendidikan. Begitu pula halnya dengan filsafat pendidikan bahwa dalam sejarahnya telah melahirkan berbagai pandangan atau aliran. Salah satunya adalah aliran rekonstruksionisme.
Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Selain itu mazhab ini juga berpandangan bahwa pendidikan hendaknya memelopori melakukan pembaharuan kembali atau merekonstruksi kembali masyarakat agar menjadi lebih baik.
Karena itu pendidikan harus mengembangkan ideology kemasyarakatan yang demokratis. Alasan mengapa rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan prograsif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada pada saat sekarang ini.
Dalam aliran rekonstruksionisme berusaha menciptakan kurikulum baru dengan memperbaharui kurikulum lama. Prograsive pendidikan didasarkan pada keyakinan bahwa pendidikan harus terpusat pada anaknya bukan memfokuskan pada guru atau bidang studi. Ini berkelanjutan pada pendidikan rekonstruksinisme yaitu guru harus menyadarkan si pendidik terhadap masalah-masalah yang dihadapi manusia untuk diselesaikan, sehingga anak didik memiliki kemampuan memecahkan masalah tersebut.
Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.
Tokoh-tokoh Rekonstruksionisme. Rekonstruksionisme dipelopori oleh:George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini:
Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg

B. Konsep pendidikan menurut teori Rekonsruksionisme
Aharianto menjelaskan pokok-pokok konsep rekonstruksionisme sebagai berikut:
1.      Pendidikan harus menciptakan tatanan social yang baru sesuai dengan nilai-nilai dan kondisi social yang baru.
2.      Masyarakat baru
3.      Anak, sekolah, dan endidikan dipengaruhi oleh kekuatan social budaya.
4.      Guru meyakinkan murid tentang kebenaran dan memecahkan masalah melalui rekonstruksi social secara demokratis.
5.      Memperbaharui tujuan dan cara-cara yang dipakai pendidikan
Menurut Brameld (kneller,1971) konsep pendidikan rekonstruksionisme ada 5 yaitu:
1.      Pendidikan harus dilaksanakan disini dan sekarang dalam rangka menciptakan tata sosial baru yang akan mengisi nilai-nilai dasar budaya kita, dan selaras dengan yang mendasari kekuatan-kekuatan ekonomi, dan sosial masyarakat modern.
2.      Masyarakat baru harus berada dalam kehidupan demokrasi sejati dimana sumber dan lembaga utama dalam masyarakat dikontrol oleh warganya sendiri.
3.      Anak, sekolah, dan pendidikan itu sendiri dikondisikan oleh kekuatan budaya dan sosial.
4.      Guru harus meyakini terhadap validitas dan urgensi dirinya dengan cara bijaksana dengan cara memperhatikan prosedur yang demokratis.
5.      Cara dan tujuan pendidikan harus dirubah kembali seluruhnya dengan tujuan untuk menemukan kebutuhan-kebutuhan yang berkaitan dengan krisis budaya dewasa ini, dan untuk menyesuaikan kebutuhan dengan sains sosial yang mendorong kita untuk menemukan nilai-nilai dimana manusia percaya atau tidak bahwa nilai-nilai itu bersifat universal.
6.      Meninjau kembali penyusunan kurikulum, isi pelajaran, metode yang dipakai, struktur administrasi, dan cara bagaimana guru dilatih.

C. Implikasi Aliran Rekonstruksionisme terhadap dunia Pendidikan
Implikasi Aliran Rekonstruksionisme terhadap kurikulum
Mengenai kurikulum, rekonstruksianisme mengorganisir kurikulum yang oleh Brameld disebut “the wheel” (roda) kurikulum, di mana inti (core) tujuan pendidikan versi rekonstruksianisme menjadi inti dari kurikulum “roda” tersebut dan menjadi tema sentral pendidikan. Kurikulum ini bersifat sentripetal sekaligus sentrifugal, sentripetal karena akan membawa masyarakat atau komunitas bersama kepada studi yang bersifat umum.
Sentrifugal karena akan meningkatkan proyeksi pendidikan di sekolah-sekolah formal ke dalam komunitas yang lebih luas. Hal tersebut secara tidak langsung akan menciptakan transformasi kultural di dalam hubungan yang dinamis antara sekolah dan masyarakat .
Implikasi pemikiran filosofis rekonstruksianisme dalam kurikulum diarahkan kepada penumbuhan kesadaran kritis peserta didik dengan model keaksaraan kritis pada materi yang diajarkan. Selain itu kurikulum ditekankan pada upaya membangun kesadaran polyculture dengan mengapresiasi keragaman budaya, adat istiadat suatu suku tertentu untuk menanamkan nilai-nilai pluralisme kultural.
Demikian pula proyeksi hubungan kemanusiaan dan aspek politik harus ditekankan baik secara eksplisit maupun implisit dalam upaya menumbuhkan kesadaran politik para peserta didik sehingga “nalar kritis” terhadap berbagai macam ketimpangan sosial dan politik yang diakibatkan oleh kesewenang-wenangan status quo, dapat menjadi modal dasar untuk melahirkan agen-agen perubahan sosial dimasa selanjutnya.
Persoalan perubahan ekonomi dan kehidupan nyata juga menjadi titik tekan utama aliran rekonstruksianisme, dalam rangka melacak peranan perubahan ekonomi, kebijakan ekonomi status quo yang menimbulkan akibat-akibat baik positif maupun negatif pada kehidupan bermasyarakat suatu negara.
Pada puncaknya, kurikulum diatur sedemikian rupa untuk merespon perlunya sebuah tatanan sosial yang mendunia, di mana para peserta didik tidak memiliki pemahaman yang fragmentaris, agar persoalan-persoalan primordial seperti keyakinan, ras, warna kulit, suku dan bangsa tidak menjadi alasan terjadinya krisis kemanusiaan, seperti permusuhan, kebencian dan perang.
Rekonstruksianisme mengajukan kurikulum semesta yang menekankan pada kebenaran, persaudaraan dan keadilan. Mereka menolak kurikulum parokial yang sempit dan hanya membawa kepentingan ideal komunitas lokal tertentu . Contohnya, pengajaran sejarah dunia semestinya juga diarahkan pada kerja-kerja kontemporer lembaga-lembaga internasional seperti PBB, ASEAN, OKI dan lain-lain.
Kurikulum juga diorientasikan pada aksi peserta didik, seperti gerakan mengumpulkan dana amal, terlibat dalam petisi, protes atau demo bersama masyarakat untuk merespons kebijakan negara yang menimbulkan problematika sosial. Peserta didik tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga belajar pada fenomena sosial yang ada seperti kemiskinan, perusakan alam, polusi udara, pemanasan global, pornografi dan lain-lain.
Oleh karena itu rekonstruksianisme menjadikan aspek-aspek sosial, budaya dan isu-isu kontemporer menjadi muatan inti kurikulum, agar peserta didik memiliki kepekaan dan empati sosial.
Kurikulum tersebut harus mulai diimplementasikan sejak Taman Kanak-Kanak, yaitu pada usia yang paling peka. Dengan demikian, peserta didik dapat menjadi penggerak utama pencerahan problem-problem sosial dan menjadi agitator utama perubahan sosial. Setelah adanya aliran rekonstruksinisme ini tujuan dan isi kurikulum berisi sebagai berikut:
1.      Tujuan dan isi kurikulum
Tujuan program pendidikan setiap tahun berubah. Misalnya dalam pendidikan ekonomi –politik, pada tahun pertama tujuannya membangun kembali dunia ekonomi politik. Maka kegiatan yang dilakukan adalah;
a.       Mengadakan survai secara kritis terhadap masyarakat
b.      Mengadakan study tentang hubungan antara keadaan ekonomi lokal,nasional serta dunia
c. Mengadakan study tentang latar belakang historis dan kecenderungan-kecenderungan perkembangan ekonomi,hubungannya dengan ekonomi lokal
d.      Mengkaji praktek politik dalam hubungannya dengan faktor ekonomi
e.       Memantapkan rencana perubahan praktek politik
f.       Mengevaluasi semua rencana dengan kriteria apakah telah memenuhikepentingan sebagian besar orang.

2.      Metode
Guru berusaha membantu siswa dalam menemukan minat dan kebutuhannya. Sesuai dengan minat masing-masing siswa, baik dalam kegiatan pleno atau kelompok berusaha memecahkan masalah sosial yang dihadapi dengan kerja sama
3.      Evaluasi
Dalam kegiatan evaluasi para siswa juga dilibatakan, keterlibatan mereka terutama dalam memilih, menyusun dan menilai bahan yang akan diujikan. Soal yang akan diujikan dinilai terlebih dahulu baik ketepatan maupun keluasan isinya, juga keampuhan menilai pencapaian tujuan-tujuan pembangunan masyarakat yang sifatnya kualitatif. Evaluasi tidak hanya menilai apa yang dikuasi siswa, tetapi juga menilai pengaruh kegiatan sekolah terhadap masyarakat. Pengaruh tersebut terutama menyangkut perkembangan masyarakat dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat.
Implikasi terhadap Pelaksana dan Peserta Pendidikan
1.      Guru (pengajar)
Guru harus membuat para peserta didik menyadari masalah-masalah yang dihadapi umat manusia, membantu mereka merasa mengenali masalah-masalah tersebut sehingga mereka merasa terikat untuk memecahkannya.
Guru harus terampil dalam membantu peserta didik menghadapi kontroversi dan perubahan. Guru harus menumbuhkan berfikir berbeda-beda sebagai suatu cara untuk menciptakan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang menjanjikan keberhasilannya.
2.      Implikasi terhadap Siswa
Siswa adalah generasi muda yang sedang tumbuh menjadi manusia pembangun masyarakat masa depan, dan perlu berlatih keras untuk menjadi insinyur-insinyur social yang diperlukan untuk membangun masyarakat masa depan.
Pada intinya aliran ini memandang manusia sebagai makhluk social. Manusia tumbuh dan berkembang dalam keterkaitannya dengan proses social dan sejarah dari pada masyarakat. Pendidikan mempunyai peranan untuk menandakan pembaharuan dan pembangunan masyarakat (Barnadib, 1996:63). Perkembangan ilmu dan teknologi tidak hanya memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi masyarakat, namun juga membawa dampak negative. Masyarakat yang hidup damai berangsur-angsur diganti oleh masyarakat yang coraknya tidak menentu dan tidak kemantapan, serta yang lebih penting dari itu lepasnya individu dalam keterkaitannya dalam masyarakat dan adanya ketersaingan. Hal ini menciptaka budaya hegemoni sebagai ideology
George F. Kneller (1984:195) membuat ikhtisar pandangan Michael W Apple tentang ideology tersebut:
1.      Pandangan Bahwa kemajuan itu tergantung dari sains dan industry
2.  Suatu kepercayaan dalam masyarakat agar orang mampu menyumbangkan jasanya dalam masyarakat kompetitif.
3.   Kepercayaan bahwa hidup yang memadai sama dengan menghasilkan dan mengkonsumsikan barang dan jasa bagi masyarakat.
Sehingga menurut Apple ketiganya tercermin dalam kurikulum sekolah. Agar keadaan masyarakat dapat diperbaiki, pendidikan menjadi wahana penting untuk rekonstruksi. Hal tersebut yang menyebabkan tumbuhnya pikiran kritis rekonstruksionisme yang terjadi dalam masyarakat, sehingga dapat dikatan rekonstruksi sebagai tujuan mencari titik kebenaran melalui lembaga pendidikan.

BAB III
KESIMPULAN
Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Selain itu mazhab ini juga berpandangan bahwa pendidikan hendaknya memelopori melakukan pembaharuan kembali atau merekonstruksi kembali masyarakat agar menjadi lebih baik
Pandangan aliran Rekonstruksionisme, memandang bahwa tujuan pendidikan adalah untuk merombak tata susunan kebudayaan lama dan membangun tata hidup kebudayaan yang baru, melalui pembinaan daya intelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia dengan pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar demi generasi sekarang dan yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.
Aharianto menjelaskan pokok-pokok konsep rekonstruksionisme sebagai berikut:
1.      Pendidikan harus menciptakan tatanan social yang baru sesuai dengan nilai-nilai dan kondisi social yang baru.
2.      Masyarakat baru
3.      Anak, sekolah, dan endidikan dipengaruhi oleh kekuatan social budaya.
4.      Guru meyakinkan murid tentang kebenaran dan memecahkan masalah melalui rekonstruksi social secara demokratis.
5.      Memperbaharui tujuan dan cara-cara yang dipakai pendidikan

Implikasi pemikiran filosofis rekonstruksianisme dalam kurikulum diarahkan kepada penumbuhan kesadaran kritis peserta didik dengan model keaksaraan kritis pada materi yang diajarkan. Selain itu kurikulum ditekankan pada upaya membangun kesadaran polyculture dengan mengapresiasi keragaman budaya, adat istiadat suatu suku tertentu untuk menanamkan nilai-nilai pluralisme kultural.
Terhadap guru, Guru harus membuat para peserta didik menyadari masalah-masalah yang dihadapi umat manusia, membantu mereka merasa mengenali masalah-masalah tersebut sehingga mereka merasa terikat untuk memecahkannya.
Terhadap siswa, siswa adalah generasi muda yang sedang tumbuh menjadi manusia pembangun masyarakat masa depan, dan perlu berlatih keras untuk menjadi insinyur-insinyur social yang diperlukan untuk membangun masyarakat masa depan.